Semarang – Sebanyak 230 lulusan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) Fakultas Farmasi Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) mengucapkan Sumpah/Janji Apoteker pada Sumpah Apoteker Periode XIV Tahun 2026 di Gedung Auditorium Kampus UNISSULA Semarang, Rabu (30/9). Momentum ini menjadi awal pengabdian para apoteker baru untuk menghadirkan pelayanan kefarmasian yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI, Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd., hadir sebagai Dewan Sidang sekaligus memberikan sambutan. Melalui kegiatan tersebut, LLDIKTI Wilayah VI menegaskan pentingnya keterkaitan antara mutu pendidikan profesi, pembentukan karakter, dan kesiapan lulusan dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Hingga periode XIV, Fakultas Farmasi UNISSULA telah meluluskan 1.507 apoteker. Dalam laporannya, Sekretaris Fakultas Farmasi, Dr. apt. Naniek Widyaningrum, M.Sc., menyampaikan bahwa tingkat kelulusan peserta yang pertama kali mengikuti Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS) PDPA periode Agustus 2026 mencapai 97,87 persen. Adapun rata-rata kelulusan kelompok tersebut selama tiga tahun terakhir sebesar 97,77 persen.
Rektor UNISSULA, Prof. Dr. Gunarto, S.H., M.H., menyampaikan apresiasi kepada orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada UNISSULA. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan lulusan juga ditopang doa dan pengorbanan keluarga.
“Saya berpesan kepada para apoteker baru untuk terus berbuat kebaikan. Terutama berbuat baik kepada kedua orang tua,” pesannya.
Pesan tersebut selaras dengan arah pendidikan PSPPA UNISSULA yang tidak hanya menyiapkan kompetensi profesional, tetapi juga membentuk apoteker *khaira ummah* yang bertakwa, berakhlakul karimah, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Bekal keilmuan dan karakter menjadi landasan bagi lulusan untuk menjalankan tanggung jawab profesi di berbagai bidang pengabdian.
Dalam sambutannya, Prof. Aisyah mengapresiasi komitmen Fakultas Farmasi UNISSULA dalam menjaga mutu pendidikan, termasuk capaian akreditasi Unggul pada Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker. Ia menekankan bahwa mutu tersebut perlu terus diwujudkan melalui lulusan yang kompeten, adaptif, dan menjunjung etika.
“Sumpah/Janji Apoteker bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan ikrar moral dan profesional untuk menjalankan profesi dengan penuh tanggung jawab. Setelah hari ini, para lulusan tidak hanya membawa gelar dan kompetensi akademik, tetapi juga membawa kepercayaan masyarakat,” ujar Prof. Aisyah.
Menurutnya, apoteker memiliki peran penting dalam memastikan penggunaan obat yang aman, bermutu, efektif, dan rasional. Karena itu, sumpah dan kode etik harus menjadi pedoman di mana pun lulusan berkarya, baik dalam pelayanan kesehatan, industri, distribusi, penelitian, pendidikan, maupun kewirausahaan.
Perspektif kesiapan praktik juga disampaikan perwakilan Ketua Kolegium Farmasi Indonesia, Prof. Dr. apt. Sri Hartati Yuliani, S.Si., M.Si. Ia menekankan bahwa kompetensi perlu disertai kesiapan menjalankan praktik profesional serta pembelajaran berkelanjutan. Para lulusan juga didorong mengabdi di wilayah yang masih kekurangan apoteker.
Sejalan dengan pesan tersebut, Prof. Aisyah mengingatkan bahwa perkembangan teknologi kesehatan, digitalisasi layanan, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial menuntut apoteker terus memperbarui pengetahuan. Kemampuan beradaptasi diperlukan agar pelayanan kefarmasian tetap relevan dengan perkembangan ilmu dan kebutuhan masyarakat.
“Jangan berhenti belajar setelah memperoleh sertifikat profesi. Terus perbarui kompetensi, ikuti perkembangan ilmu, teknologi, regulasi, dan kebutuhan pelayanan kesehatan,” pesannya.
LLDIKTI Wilayah VI turut mendorong UNISSULA memperkuat kolaborasi dengan organisasi profesi, pemerintah, dunia usaha dan industri, fasilitas pelayanan kesehatan, serta mitra strategis lainnya. Kolaborasi tersebut diharapkan mendukung pendidikan profesi yang responsif terhadap kebutuhan dunia kerja sekaligus memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam pelayanan kesehatan.
Melalui pengucapan sumpah ini, para apoteker baru diharapkan mampu menerjemahkan bekal pendidikan menjadi pengabdian nyata. Keberhasilan pendidikan profesi tidak berhenti pada kelulusan dan capaian akreditasi, tetapi berlanjut pada kualitas pelayanan serta manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Jadilah apoteker yang berilmu, berintegritas, adaptif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Bawa nama baik almamater dan profesi di mana pun berada,” pungkas Prof. Aisyah.
( Humas LLDIKTI VI )


