Kepala LLDIKTI Wilayah VI Ajak Mahasiswa Baru UNTS Menjadi Generasi Pencipta Solusi

SEMARANG – Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI, Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd., mengajak mahasiswa baru Universitas Telogorejo Semarang (UNTS) untuk mempersiapkan diri menjadi generasi unggul, berkarakter, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah umum pada Pembukaan Program Matrikulasi Mahasiswa Baru UNTS Tahun Akademik 2026/2027, Rabu (2/9/2026), di Universitas Telogorejo Semarang, Jalan Arteri Yos Sudarso, Puri Anjasmoro, Semarang.

Kegiatan yang dibuka oleh Rektor UNTS, dr. Swanny Trikajanti Widyaatmadja, M.Kes., Ph.D., tersebut diikuti 457 mahasiswa baru dari tujuh program studi. Para mahasiswa terdiri atas 141 mahasiswa S-1 Keperawatan, 27 mahasiswa D-3 Keperawatan, 45 mahasiswa S-1 Kebidanan, 95 mahasiswa S-1 Fisioterapi, 117 mahasiswa S-1 Farmasi, 14 mahasiswa S-1 Kewirausahaan, serta 18 mahasiswa S-1 Bisnis Digital.

Program matrikulasi tahun ini mengusung tema “Membangun Fondasi Profesional Masa Depan yang Beretika, Unggul, Berdampak, dan Berbasis Teknologi di Era Akselerasi Global dan Transformasi Digital 2026”.

Matrikulasi sebagai Awal Transformasi

Dalam kuliah umum bertajuk “Sinergi Pendidikan Tinggi dan Kebijakan Kemdiktisaintek: Mencetak Generasi Unggul, Berkarakter, dan Berdampak untuk Indonesia”, Prof. Aisyah menegaskan bahwa matrikulasi bukan sekadar kegiatan pengenalan akademik.

Menurutnya, matrikulasi merupakan titik awal transformasi mahasiswa dari peserta didik menjadi insan pembelajar yang mampu memahami persoalan dan menciptakan solusi.

“Matrikulasi bukan sekadar seremonial akademik, tetapi menjadi titik awal perubahan pola pikir dari pencari ilmu menjadi pencipta solusi atau solution finder,” ujar Prof. Aisyah.

Di tengah disrupsi teknologi, perkembangan kecerdasan artifisial, dan perubahan global, mahasiswa dituntut memiliki penguasaan keilmuan yang kuat sekaligus daya tahan, kreativitas, kecakapan digital, dan komitmen terhadap etika.

Keunggulan kompetensi, lanjutnya, harus tumbuh beriringan dengan integritas dan karakter. Mahasiswa tidak hanya perlu menguasai keilmuan dan keterampilan teknis, tetapi juga menjunjung etika profesi, integritas akademik, nilai kebangsaan, kebinekaan, serta kepemimpinan yang bebas dari kekerasan.

“Mahasiswa harus cerdas dalam kompetensi dan teguh dalam integritas. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai harus digunakan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemanusiaan,” pesannya.

Kampus Menjadi Simpul Solusi

Prof. Aisyah juga memaparkan paradigma Kampus Berdampak yang mendorong transformasi perguruan tinggi dari pusat pengajaran menjadi simpul solusi bangsa dan pertumbuhan ekonomi.

Paradigma tersebut menempatkan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai satu kesatuan yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata. Hasil pendidikan tinggi diharapkan tidak berhenti pada ijazah, sementara hasil riset tidak hanya berakhir sebagai publikasi, tetapi berkembang menjadi solusi, layanan, inovasi, serta nilai tambah bagi masyarakat.

Untuk mewujudkannya, mahasiswa perlu memperoleh pengalaman belajar yang dekat dengan dunia nyata melalui magang dan praktik industri, riset dan hilirisasi inovasi, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan kewirausahaan.

“Mahasiswa harus mulai membangun kesadaran bahwa ilmu yang dipelajari bukan hanya untuk kepentingan pribadi. Ilmu tersebut harus diwujudkan menjadi karya yang memberikan dampak bagi masyarakat,” kata Prof. Aisyah.

Bagi mahasiswa di bidang kesehatan, penguasaan kompetensi klinis dan teknologi perlu diimbangi dengan kepedulian humanis serta orientasi terhadap keselamatan pasien. Sementara itu, mahasiswa bidang kewirausahaan dan bisnis digital didorong untuk mengembangkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi.

Empat Tahap Pengembangan Talenta

Dalam paparannya, Prof. Aisyah menjelaskan empat tahapan pengembangan talenta mahasiswa. Tahap pertama dimulai melalui matrikulasi untuk membangun fondasi keilmuan, etika akademik, dan kemampuan beradaptasi dengan budaya kampus.

Tahap kedua merupakan penguatan kompetensi inti melalui pembelajaran, praktik, laboratorium, dan literasi teknologi digital. Tahap ketiga diarahkan pada pengalaman belajar yang berdampak melalui magang, riset kolaboratif, kewirausahaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Adapun tahap terakhir adalah membentuk sumber daya manusia unggul yang mampu menyelesaikan pendidikan tepat waktu, siap memasuki dunia kerja, serta berkontribusi terhadap pembangunan nasional.

Roadmap tersebut diharapkan dapat membentuk lulusan UNTS yang kompeten, adaptif, dan berdampak sekaligus berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

LLDIKTI Wilayah VI Konsisten Dampingi Peningkatan Mutu PTS

Sebagai lembaga yang memfasilitasi peningkatan mutu perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah, LLDIKTI Wilayah VI berkomitmen terus mendampingi UNTS dan seluruh PTS agar semakin unggul, aman, kolaboratif, dan berdaya saing.

Pendampingan tersebut meliputi penguatan tata kelola dan budaya mutu, peningkatan akreditasi, penciptaan lingkungan kampus yang aman dan inklusif, pengembangan kemitraan antarperguruan tinggi, serta peningkatan kompetensi dosen dan tenaga kependidikan.

LLDIKTI Wilayah VI juga mendorong perguruan tinggi untuk membangun lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan dan perundungan, sekaligus memberikan ruang kepada mahasiswa untuk berkembang secara akademik maupun personal.

Melalui matrikulasi ini, para mahasiswa baru UNTS diharapkan mampu membangun fondasi pendidikan yang kuat sejak awal. Perjalanan pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi juga melalui praktik, pemanfaatan teknologi, kolaborasi, penelitian, dan pengabdian nyata kepada masyarakat.

“Belajarlah hari ini untuk memimpin perubahan pada masa mendatang. Jadilah generasi yang cerdas dalam karya, kuat dalam karakter, dan nyata dalam memberikan dampak,” pungkas Prof. Aisyah.