Semarang, 21 Januari 2026 – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas akses pendidikan tinggi serta meningkatkan kualitas riset perguruan tinggi swasta. Hal tersebut disampaikan Kepala LLDIKTI Wilayah VI, Prof. Aisyah Endah Palupi, saat ditemui awak media pada acara Pengukuhan Guru Besar Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) yang digelar di Hotel Patra, Semarang.
Dalam keterangannya, Prof. Aisyah menyoroti penguatan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) sebagai salah satu instrumen strategis dalam peningkatan kualifikasi sumber daya manusia. RPL merupakan proses pengakuan atas capaian pembelajaran yang telah dimiliki seseorang, baik yang diperoleh melalui pendidikan formal maupun pengalaman non-formal.
“RPL terbagi menjadi dua kategori, yaitu RPL Transfer dan RPL Perolehan. RPL Transfer adalah pengakuan atas mata kuliah atau kredit yang telah ditempuh di perguruan tinggi sebelumnya, sehingga mahasiswa tidak perlu mengulang mata kuliah yang sama. Sementara RPL Perolehan adalah pengakuan atas pengalaman belajar di luar pendidikan formal, seperti pengalaman kerja, pelatihan, atau aktivitas profesional lainnya,” jelasnya.
Perbedaan utama kedua skema tersebut terletak pada asal pengalaman dan proses pengakuannya. RPL Transfer bersumber dari pendidikan formal dan didukung dokumen akademik, sedangkan RPL Perolehan menekankan pada evaluasi portofolio pengalaman. Keduanya bertujuan mempermudah akses pendidikan tinggi serta memberikan pengakuan yang adil atas kompetensi yang dimiliki masyarakat.
Terkait capaian program RPL di Wilayah VI, Prof. Aisyah mengungkapkan bahwa minat masyarakat menunjukkan angka yang sangat baik. Tahun ini, terdapat 113 usulan penyelenggaraan RPL Perolehan SKS, dengan 109 program studi dinyatakan layak dan 4 lainnya masih memerlukan penyempurnaan. Sementara itu, pada RPL Transfer SKS terdapat 86 usulan program studi, dengan 77 di antaranya memenuhi kelayakan dan 9 program studi masih dalam proses pembinaan.
“Ketidaklayakan tersebut umumnya disebabkan oleh aspek tata kelola, seperti RPL yang belum terintegrasi dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), belum adanya unit pengelola RPL, pedoman penyelenggaraan, serta tim asesor RPL. Ini menjadi perhatian serius kami untuk terus melakukan pendampingan,” ujarnya.
Dari sisi peminatan, RPL Perolehan SKS paling banyak diminati pada program studi Manajemen dengan 3.204 peserta, disusul Ilmu Hukum sebanyak 3.075 peserta, dan Pendidikan Guru PAUD sebanyak 2.730 peserta. Sementara RPL Transfer SKS didominasi oleh bidang kesehatan, yakni Kebidanan dengan 4.835 peserta, Keperawatan 2.531 peserta, dan Ilmu Keperawatan 1.276 peserta.
“Data ini menunjukkan bahwa RPL telah menjadi instrumen strategis dalam peningkatan kualifikasi SDM, khususnya di bidang manajerial, hukum, pendidikan, dan kesehatan,” tegas Prof. Aisyah.
Selain RPL, Kepala LLDIKTI Wilayah VI juga menegaskan pentingnya keselarasan riset dosen dengan kebijakan nasional. Terkait delapan Bidang Riset Prioritas Nasional tahun 2026, LLDIKTI Wilayah VI telah melakukan sosialisasi dan arahan kepada perguruan tinggi dan dosen di wilayah Jawa Tengah.
Adapun delapan bidang riset prioritas tersebut meliputi Energi Terbarukan, Kemaritiman, Kesehatan, Pangan, Pertahanan dan Keamanan, Rekayasa Keteknikan, Sosial Humaniora, serta Transportasi.
“Sebagai perpanjangan tangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, LLDIKTI Wilayah VI terus mendukung pelaksanaan Tridharma perguruan tinggi, khususnya dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” ungkapnya.
Pada tahun 2025, tercatat terdapat enam skema penelitian dengan total 1.035 judul dari 141 perguruan tinggi swasta yang didanai sebesar Rp75,37 miliar. Selain itu, program hilirisasi riset juga mendanai 82 judul dari 33 PTS dengan total anggaran Rp13,28 miliar. Sementara untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat, terdapat tujuh skema dengan 502 judul dari 208 PTS yang memperoleh pendanaan sebesar Rp30,19 miliar.
“Ke depan, kami berharap riset dan pengabdian yang dilakukan perguruan tinggi di Wilayah VI semakin berkualitas, relevan dengan kebutuhan pembangunan, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” pungkas Prof. Aisyah. (Humas LLDIKTI Wilayah VI)