LLDIKTI Wilayah VI bersama UNS Siapkan Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Percepat Penanggulangan TBC

SURAKARTA – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VI bersama Universitas Sebelas Maret menginisiasi pembentukan Konsorsium Perguruan Tinggi Penanggulangan Tuberkulosis di wilayah Surakarta. Langkah awal tersebut ditandai melalui rapat koordinasi yang diselenggarakan di Gedung Rektorat UNS, Surakarta, Senin (14/9/2026).

Pertemuan yang melibatkan perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta di Surakarta dan sekitarnya itu membahas penyatuan kapasitas akademik untuk mendukung percepatan penanggulangan TBC. Kolaborasi dirancang dengan melibatkan pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, komunitas, serta dunia usaha dan dunia industri.

Inisiatif tersebut merupakan tindak lanjut arahan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk memobilisasi sumber daya akademik secara gotong royong dalam mendukung target eliminasi TBC. Perguruan tinggi dinilai memiliki modal penting berupa kepakaran dosen dan peneliti, mahasiswa, laboratorium, teknologi, kemampuan analisis data, serta jejaring pengabdian kepada masyarakat.

Kepala LLDIKTI Wilayah VI, Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd., menegaskan bahwa konsorsium harus dibangun sebagai ruang kerja bersama yang menghasilkan program konkret, bukan sekadar kesepakatan administratif.

“Pembentukan konsorsium ini tidak boleh berhenti sebagai tulisan atau forum pertemuan. Ruhnya adalah kolaborasi yang benar-benar bekerja. LLDIKTI Wilayah VI mengambil peran sebagai orkestrator untuk mempertemukan kepakaran PTN dan PTS dengan kebutuhan pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, masyarakat, serta peluang dukungan dari dunia usaha dan dunia industri,” tutur Aisyah.

Menurutnya, perguruan tinggi di Jawa Tengah telah menjalankan berbagai penelitian dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berkaitan dengan TBC. Namun, kapasitas tersebut masih tersebar dan perlu dipetakan agar dapat saling terhubung serta diarahkan pada persoalan yang paling membutuhkan penanganan.

“Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah memetakan siapa yang memiliki kepakaran, penelitian, fasilitas, data, dan jejaring terkait TBC, sekaligus mengidentifikasi program yang sudah berjalan. Dari pemetaan itulah kita dapat mencocokkan kebutuhan, membangun kolaborasi, dan menghubungkannya dengan berbagai skema pendanaan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat,” lanjutnya.

Prof. Aisyah juga mendorong pelibatan mahasiswa sejak tahap perencanaan. Mahasiswa dapat mengambil peran melalui penelitian, pengumpulan dan analisis data, edukasi masyarakat, pendampingan pasien, maupun Kuliah Kerja Nyata Tematik yang dirancang dengan aktivitas dan indikator yang seragam.

“Mahasiswa jangan baru dilibatkan ketika program sudah matang. Mereka perlu diajak sejak proses pemetaan dan perancangan agar pengalaman akademiknya sekaligus dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” tegasnya.

Surakarta sebagai Living Laboratory

Dalam rancangan awal, Surakarta diproyeksikan menjadi TB Living Laboratory, yakni ruang kolaborasi untuk mengidentifikasi masalah nyata, mengolah data, mengembangkan riset dan inovasi, menguji solusi di lapangan, serta mengevaluasi hasilnya sebagai bahan perbaikan program dan kebijakan.

Pendekatan tersebut memungkinkan persoalan TBC dikaji secara multidisiplin. Penanganan TBC tidak hanya berkaitan dengan diagnosis dan pengobatan, tetapi juga menyangkut kepatuhan minum obat, resistansi obat, stigma, kondisi hunian, literasi kesehatan, lingkungan, serta faktor sosial dan ekonomi.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, Internasionalisasi, dan Informasi UNS, Prof. Irwan Trinugroho, S.E., M.Sc., Ph.D., menyambut baik kolaborasi lintas perguruan tinggi tersebut. Ia menilai konsorsium dapat memperkuat kualitas dan daya saing usulan program karena setiap institusi berkontribusi berdasarkan keunggulan masing-masing.

“Kolaborasi ini harus menghasilkan dampak yang jelas sekaligus keluaran bersama, baik berupa publikasi, kekayaan intelektual, inovasi, maupun model intervensi. Keterbatasan anggaran di masing-masing institusi perlu dijawab dengan penyusunan proposal kolaboratif dan pemanfaatan skema pendanaan konsorsium dari kementerian maupun mitra lainnya,” ujar Irwan.

Ia menambahkan, pembentukan tim sebaiknya langsung melibatkan dosen, peneliti, dan tenaga ahli yang selama ini bergerak dalam penanggulangan TBC. Setiap perguruan tinggi diminta mengusulkan satu hingga dua orang untuk terlibat dalam tim persiapan, disertai informasi mengenai kepakaran, kegiatan yang telah dilaksanakan, serta persoalan TBC yang dinilai perlu diprioritaskan.

Menghubungkan Program yang Telah Berjalan

Diskusi dalam rapat koordinasi menunjukkan bahwa sejumlah perguruan tinggi telah memiliki pengalaman yang dapat menjadi modal awal konsorsium. Pengalaman tersebut antara lain penelitian dan surveilans TBC, penyusunan rencana aksi daerah, digitalisasi data, promosi kesehatan, pendampingan kader, pembinaan kelurahan, hingga edukasi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Perwakilan Universitas Kusuma Husada Surakarta, Budi Prasetyo, menyampaikan bahwa program Kampung Peduli TBC telah berjalan di Surakarta dan melibatkan perguruan tinggi bersama mitra terkait. Program tersebut perlu dihubungkan dengan rencana konsorsium agar kegiatan yang telah berlangsung dapat diperkuat dan dievaluasi secara berkelanjutan.

“Perguruan tinggi sebenarnya sudah bergerak melalui Kampung Peduli TBC, pendampingan masyarakat, serta evaluasi program. Konsorsium ini diharapkan menjadi penghubung agar berbagai kegiatan tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dapat diselaraskan dengan program Dinas Kesehatan dan diarahkan bersama untuk mendukung target eliminasi TBC tahun 2030,” ungkap Budi.

Perguruan tinggi lainnya juga menyampaikan pengalaman dalam mendampingi kelurahan dengan kasus TBC, memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan kelompok lanjut usia, mengembangkan promosi kesehatan, mengkaji stigma, serta memetakan keterkaitan TBC dengan kemiskinan dan kondisi lingkungan.

Berbagai praktik yang telah berjalan tersebut akan diidentifikasi untuk melihat capaian, kekurangan, dan peluang pengembangannya. Dengan demikian, konsorsium tidak memulai program dari awal, tetapi memperkuat, menghubungkan, dan meningkatkan skala kegiatan yang telah dilakukan perguruan tinggi bersama pemerintah dan masyarakat.

Tim Persiapan dan Pemetaan Kapasitas

Rapat koordinasi menyepakati pembentukan tim persiapan konsorsium dengan komposisi yang ramping. UNS ditunjuk sebagai ketua atau pengampu awal, sedangkan Universitas Muhammadiyah Surakarta sebagai wakil. Perguruan tinggi peserta selanjutnya diminta mengirimkan nama perwakilan beserta data kepakaran dan pengalaman institusinya dalam penanggulangan TBC.

Tim persiapan akan memulai tahapan MAP, yakni memetakan masalah prioritas, sumber daya manusia dan kepakaran, fasilitas penelitian, data, jejaring, serta kegiatan TBC yang telah dilaksanakan. Hasil pemetaan kemudian memasuki tahap MATCH untuk mempertemukan kebutuhan di lapangan dengan perguruan tinggi dan mitra yang memiliki kapasitas paling relevan.

Tahapan berikutnya adalah COLLABORATE, melalui riset bersama, inovasi, pengabdian kepada masyarakat, dan proyek percontohan. Seluruh program selanjutnya diarahkan pada IMPACT, yaitu pengukuran hasil, pemanfaatan temuan untuk memperbaiki kebijakan, serta pengembangan model yang dapat diterapkan lebih luas.

Salah satu agenda awal yang dibahas adalah penyusunan peta sumber daya manusia dan kepakaran TBC atau TB Human Capital and Expertise Map. Pemetaan tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan pembagian peran, tema prioritas, lokasi intervensi, bentuk pelibatan mahasiswa, serta peluang pendanaan kolaboratif.

Melalui konsorsium ini, kapasitas perguruan tinggi diharapkan dapat diterjemahkan menjadi solusi yang lebih tepat sasaran bagi masyarakat, mulai dari penguatan penemuan kasus, pendampingan dan kesinambungan pengobatan, edukasi serta pengurangan stigma, hingga penyediaan data dan bukti ilmiah untuk mendukung pengambilan kebijakan.

LLDIKTI Wilayah VI akan terus memfasilitasi koordinasi antarpihak agar proses pembentukan konsorsium bergerak menuju program kolaboratif yang terukur. Surakarta diharapkan menjadi model awal untuk membuktikan bagaimana kepakaran perguruan tinggi dapat dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat dan dikembangkan untuk mendukung penanggulangan TBC di wilayah Jawa Tengah.

(Humas LLDIKTI6)