SALATIGA – Akademi Inovasi Indonesia mencatat capaian membanggakan dengan menempati posisi teratas sebagai perguruan tinggi dengan jumlah permohonan desain industri terbanyak di Indonesia sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data yang dirilis Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum, institusi pendidikan vokasi yang berbasis di Kota Salatiga tersebut berhasil membukukan sebanyak 588 permohonan desain industri.
Capaian tersebut menjadi sorotan karena AII merupakan perguruan tinggi yang relatif muda. Berdiri secara resmi pada tahun 2023, kampus vokasi ini mampu melampaui sejumlah perguruan tinggi besar dalam hal produktivitas kekayaan intelektual, khususnya pada bidang desain industri.

Keberhasilan itu tidak lepas dari model pembelajaran yang diterapkan AII melalui pendekatan Teaching Factory dan Project-Based Learning. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam proses industri riil sejak awal perkuliahan. Sistem tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan PT DTech Inovasi Indonesia atau DTECH-ENGINEERING sebagai mitra industri utama.
Wakil Direktur Bidang Inovasi dan Kerja Sama AII, Fajrul Falah menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil dari budaya inovasi yang terus dibangun di lingkungan kampus. Menurutnya, sinergi antara mahasiswa, dosen, dan dunia industri menjadi faktor penting yang mendorong lahirnya berbagai produk inovatif yang tidak hanya berhenti pada tahap rancangan, tetapi juga berhasil diproduksi dan digunakan masyarakat luas.
Sebagian besar desain industri yang didaftarkan berasal dari sektor transportasi dan manufaktur, di antaranya produk variasi motoparts, komponen teknik, hingga desain kursi kereta api hasil kolaborasi dengan PT Industri Kereta Api (INKA). Berbagai produk tersebut telah diproduksi secara massal dan terserap di pasar industri nasional.
Direktur Akademi Inovasi Indonesia, Wikan Sakarinto, sebelumnya juga menegaskan bahwa kampus vokasi harus mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri. Melalui kurikulum berbasis inovasi dan praktik industri langsung, AII berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menghasilkan produk inovatif bernilai ekonomi.
Pencapaian ini sekaligus memperlihatkan bahwa perguruan tinggi vokasi memiliki peluang besar untuk menjadi motor penggerak inovasi nasional, terutama ketika dunia pendidikan mampu membangun kolaborasi erat dengan sektor industri secara berkelanjutan.
(Humas LLDIKTI6 x AII)
