Jepara, 7 April 2026 — Sebanyak 21 perguruan tinggi swasta (PTS) yang tergabung dalam Zona II Kudus Raya mengikuti kegiatan Diseminasi Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi di Kampus Unisnu Jepara, Selasa (7/4). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman serta kesiapan perguruan tinggi dalam mengimplementasikan IKU yang berbasis outcome.
Jajaran Tim Kerja LLDIKTI Wilayah VI hadir membersamai diskusi dan belajar bareng IKU perguruan tinggi. Dalam sambutannya, Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah VI Adhrial Refaddin, S.IP, M.PP., menegaskan bahwa IKU bukanlah alat untuk mempersulit perguruan tinggi, melainkan instrumen untuk memetakan dan meningkatkan kinerja perguruan tinggi secara berkelanjutan.
“Perguruan tinggi harus bertransformasi, tidak hanya berfokus pada aktivitas administratif, tetapi pada dampak nyata melalui Tri Dharma dan implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI),” tutur Adhrial.
Selanjutnya, disampaikan pula kebijakan terbaru berdasarkan Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2025 terkait kategori akreditasi yang kini mencakup terakreditasi, tidak terakreditasi, unggul, dan internasional. Perguruan tinggi didorong untuk meningkatkan mutu agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Dalam sesi materi oleh Tim Kerja LLDIKTI Wilayah VI, dijelaskan bahwa IKU terdiri dari 12 indikator yang mencakup aspek pendidikan, riset dan inovasi, kontribusi sosial, serta tata kelola kelembagaan. Beberapa fokus utama meliputi ketepatan waktu kelulusan mahasiswa, serapan lulusan di dunia kerja, keterlibatan mahasiswa di luar kampus, hingga kualitas publikasi ilmiah dan kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi perguruan tinggi, seperti rendahnya kualitas publikasi, kecenderungan dosen memenuhi standar minimal, serta kurang optimalnya dampak riset. Hal ini dinilai berpengaruh terhadap reputasi institusi yang lebih ditentukan oleh kualitas dosen dan alumni dibandingkan sekadar promosi.
LLDIKTI juga menegaskan perannya tidak hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai mitra strategis, fasilitator, dan penghubung antar pemangku kepentingan. Berbagai program seperti coaching clinic penelitian, peningkatan jabatan fungsional dosen, serta penguatan jejaring dengan industri dan pemerintah daerah terus didorong.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang membahas berbagai aspek teknis implementasi IKU, mulai dari sumber data, pelaporan, hingga mekanisme penilaian. Salah satu poin penting yang ditegaskan adalah penggunaan data PDDIKTI sebagai acuan utama dalam pengukuran indikator.
Sebagai penutup, LLDIKTI menyampaikan komitmennya untuk mendampingi perguruan tinggi swasta dalam lima tahun ke depan. Seluruh peserta diharapkan dapat memaknai IKU sebagai alat refleksi dan pengembangan diri guna meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. (Foto Dan Berita : Humas LLDIKTI VI)

