Previous
Next

Mahasiswa Jepang Belajar Bahasa Inggris di UKSW

Sejumlah mahasiswa Kwansei Gakuin University (KGU), Jepang kembali mengikuti kegiatan belajar bahasa di kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Melalui program Intensive English Language Program (IELP), kali ini enam mahasiswa KGU mengikuti kelas virtual selama dua pekan.

Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Internasional (BKHI) UKSW Neny Isharyanti, Ph.D., selaku koordinator program saat dihubungi melalui pesan singkat, Kamis (17/3/2022) mengatakan IELP merupakan program kerjasama terbaru antara UKSW dengan KGU Jepang. Kegiatan ini telah dimulai sejak tahun 2020 lalu dimana fokus program adalah belajar bahasa Inggris.

Neny bersyukur karena UKSW dianggap mampu untuk menyediakan program pembelajaran bahasa Inggris bagi penutur asing, meskipun bahasa Inggris bukan merupakan bahasa asli masyarakat Indonesia.

“Dalam prakteknya kegiatan ini melibatkan Language Training Center (LTC) UKSW, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), serta Program studi Destinasi Pariwisata Fakultas Interdisiplin. Tiga materi menjadi komponen program IELP yakni language tutorials, language activities, serta wonderful Indonesia,” jelasnya.

Pada komponen language activities peserta mengikuti berbagai kegiatan menarik yang mendukung proses berlatih berbahasa Inggris dengan para mahasiswa FBS dan dosen. Mulai dari memperkenalkan diri, berbagi informasi menu sarapan, membuat origami dan aktivitas keseharian lainnya.

Lebih lanjut Neny menjelaskan dalam komponen wonderful Indonesia, para dosen dan mahasiswa prodi Despar telah meyiapkan video mengenai berbagai tempat wisata di Indonesia yang dapat dinikmati enam mahasiswa asal Jepang dengan memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR). Kegiatan menarik lainnya dalam kelas pengenalan budaya dan bahasa Indonesia peserta diajak memainkan alat musik tradisional Indonesia lewat media online yaitu e-gamelan serta belajar sejumlah tarian asal Indonesia.

“Melalui penyediaan program semacam ini menjadi sebuah keuntungan bagi UKSW karena dapat mendukung berkembangnya upaya internasionalisasi. Harapan ke depannya, program serupa bisa ditawarkan dengan universitas lain yang mempunyai kerjasama dengan UKSW sehingga dapat menarik minat lebih banyak mahasiswa KGU dan internasional untuk belajar di UKSW,” imbuhnya.

Program unggulan

Sementara itu Pembantu Rektor IV Bidang Kerjasama Kelembagaan dan Internasionalisasi Joseph Ernest Mambu, S.Pd., M.A.,  Ph.D., menyebut IELP merupakan program unggulan selain East Asian Student Encounter (EASE) yang telah diselenggarakan antara UKSW dan KGU. Menjadi sebuah kehormatan bagi UKSW telah menjadi tuan rumah program IELP sejak tahun 2020.

“Indonesia bukanlah negara berbahasa Inggris, namun KGU telah mengakui kekuatan UKSW dalam studi bahasa Inggris, termasuk pengajaran dan pembelajaran bahasa Inggris. Pandangan tradisional tentang pengajaran bahasa Inggris adalah kita harus belajar di negara dengan penutur asli bahasa Inggris. Namun kini terbuka kesempatan bagi sesama penutur bahasa Inggris non-asli untuk saling belajar,” terang Joseph di acara penutupan IELP.

Menurutnya dalam konteks IELP, dimana bagi Jepang dan Indonesia bahasa Inggris digunakan sebagai lingua franca maka UKSW telah berusaha memberikan yang terbaik. Joseph berharap untuk periode mendatang program IELP dapat kembali diselenggarakan secara tatap muka.

Sementara itu Miyako Toyoshima selaku Head the Outbond Programs Center for International Education and Cooperation KGU Jepang memberikan apresiasi positif dengan kembali terselenggaranya program IELP. Menurutnya program ini sangat bermanfaat khususnya membantu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dari mahasiswa KGU yang menjadi peserta.

Raut bahagia ditunjukkan enam mahasiswa KGU yakni Ohara Soshi, Tai Haruka, Tasaki Momoka, Tezuka Minori, Keima Tsuruhara serta Komatsubara Koichiro saat mengikuti acara penutupan IELP, belum lama ini. Di akhir sesi para peserta memperoleh sertifikat kerikutsertaan program IELP.

Komatsubara Koichiro menyebut bahwa dengan mengikuti IELP dapat menambah kemampuan berbahasa Inggrisnya. Senada, Tezuka Minori yang awal mula mengikuti kegiatan ini merasa kemampuan sangat minim menjadi lebih percaya diri untuk bercakap dengan menggunakan bahasa Inggris.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram