Previous slide
Next slide

Waspadai Ledakan Penduduk Pasca Pandemi

Merebaknya wabah Covid-19 turut menimbulkan kekhawatiran akan dampak kependudukan bagi bangsa Indonesia. Hal ini disoroti secara khusus dalam webinar bertema “Mewaspadai Dampak Kependudukan Akibat Pandemi Covid-19” yang terselenggara atas kerjasama Pusat Pengajaran dan Pembelajaran Inovatif (P3I) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Tengah serta Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Provinsi Jawa Tengah, Kamis (23/7).

Webinar ini diikuti oleh sedikitnya 300 peserta yang terdiri dari sivitas akademika, praktisi, penyuluh,  pengurus dan anggota BKKBN serta KKI dari berbagai kota di Indonesia. Drs Daru Purnomo MSi, selaku Ketua Koalisi Kependudukan Kota Salatiga yang berkesempatan menjadi host dalam acara ini menuturkan masa pandemi turut membawa dampak pada masalah kependudukan seperti kesehatan wanita dan anak hingga meningkatnya angka kehamilan tidak dikehendaki.

Daru Purnomo dengan tegas menyatakan perlu adanya jaminan atas solusi dari keresahan tersebut. Menurutnya kondisi pandemi ini sangat menghambat berbagai upaya yang telah dilakukan untuk menekan laju kependudukan sehingga perlu pemikiran bersama. “Kegiatan ini sekaligus diselenggarakan untuk memperingati Hari Kependudukan Nasional yang jatuh pada 11 Juli lalu,” imbuh dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) UKSW ini.

Pemikiran dari tiga narasumber yakni Kepala BKKBN Republik Indonesia dr Hasto Wardoyo SPOg(K), Ketua Umum Koalisi Kependudukan Indonesia Dr Sonny Harry B Harmadi, dan Dosen FISKOM UKSW Dr Ir Sri Suwartiningsih MSi, turut mewarnai webinar yang juga dibuka oleh Rektor UKSW, Neil Semuel Rupidara  SE MSc PhD.

Timbulkan kekhawatiran

Pandemi Covid-19 dikatakan  Hasto menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya jumlah kehamilan akibat terhambatnya layanan kontrasepsi selama pandemi. Berdasarkan pengamatan BKKBN, bahwa kehamilan tidak dikehendaki dibeberapa daerah di Indonesia masih terbilang cukup tinggi dan bisa menimbulkan beberapa akibat yang cukup fatal.

Pada kondisi pandemi seperti ini dikatakan oleh Hasto membuat para pasien ragu untuk memeriksakan kesehatan reproduksi mereka ke fasilitas kesehatan yang ada. Pun dari sisi faskes banyak yang melakukan sejumlah pembatasan pelayanan.

Merujuk pada pernyataan diatas, mantan Bupati Kulon Progo tersebut juga menyampaikan bahwa pada masa pandemi seperti ini terjadi penurunan angka pada pelayanan KB. Menyiasati hal ini pihaknya telah melakukan terobosan dan memperbarui skema pelayanan KB di era adaptasi kebiasaan baru.

“Banyak hal yang kita lakukan sehingga penyuluh KB dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) masih bisa aktif bergerak untuk melayani masyarakat. Alur pelayanan PKB dan PLKB sudah kita buat dan sosialisasikan. Kami juga berharap sekiranya tindakan-tindakan ini bisa membuat pelayanan kami lebih responsif terhadap situasi dan perubahan yang ada,” ujar Hasto.

Melihat dari sisi demografi, Sonny Harmadi menyampaikan bahwa sejak 2012 Indonesia mengalami masa bonus demografi dimana kondisi terbaiknya ada pada tahun 2020-2024. Namun saat ini justru tengah diperhadapkan dengan pandemi covid-19.

Kondisi ini menurut Sonny berakibat pada meningkatnya kuantitas angka kelahiran namun dari segi kualitas justru menurun.

Tingkatkan Resiko

“Pemeriksaan kehamilan dimasa pandemi seperti ini cenderung menurun karena orang menghindari fasilitas kesehatan dan enggan untuk memeriksakan kehamilannya. Hal tersebut juga didukung oleh beberapa kasus tentang ibu hamil yang tertular covid-19 saat memeriksakan kehamilannya di fasilitas kesehatan. Nah hal ini akan mempengaruhi kualitas dari bayi yang lahir hingga resiko kematian ibu,” tegasnya.

Sonny juga sempat menyinggung apa saja dampak covid terhadap generasi milenial yang merupakan bonus demografi. Menilik dari segi pendidikan, kesehatan, produktivitas dan keluarga berencana, Sonny menyampaikan bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting.

Ia menekankan bahwa semakin baik ketahanan keluarga, semakin baik pula kemampuan keluarga menghadapi perubahan akibat pandemi dan pasca-pandemi.

Sebagai pemateri terakhir, Sri Suwartiningsih menggiring para peserta untuk menengok kondisi sosiologis di tengah pandemi. Dalam paparannya Sri mengungkapkan seperti apa perubahan-perubahan aktivitas yang terjadi pada situasi sebelum dan sesudah pandemi baik dari sisi keluarga, pertemanan, organisasi sosial, keagamaan, ekonomi, dan juga pendidikan.

“Kita akan menuju sejahtera pada masa bonus demografi, tetapi semua tergantung pada sumber daya manusianya. Kita juga perlu waspada karena pandemi dapat mengancam keadilan, kesejahteraan maupun harmonisasi dan kearifan. Tapi apabila kita mengetahui potensi, mengasahnya dan mengadaptasikan diri maka semuanya itu bisa kita capai,” ujarnya.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram